Home / Artikel / INSPIRING STORY / Konsep Pengasuhan Anak & Keluarga

Konsep Pengasuhan Anak & Keluarga

by Asep Kurniawan Kamis, 21 Dec 2017 13:00 188 - INSPIRING STORY

bg-reg

Konsep Pengasuhan Anak & Keluarga mengacu pada konsep Pengasuhan pada keluarga para Nabi & Rasul. Berbagai mutiara hikmah bisa dipetik dari Kisah-kisah teladan dalam Al Qur’an & Sunnah. Mendidik anak-anak lelaki agar berakhlak seperti Nabi & mendidik anak-anak perempuan agar berakhlak seperti istri-istri Nabi. Berbagai treatment yang berbeda diberikan sesuai usia mereka. Sumber berita dikutip dari situs : elhooda.net sbb:

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘Anhu telah merumuskan cara memperlakukan atau mendidik anak berdasarkan jenjang umur 7 tahunan. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun) perlakukan anak sebagai raja. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun) perlakukan anak sebagai tawanan. Dan kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun) perlakukan anak sebagai sahabat.

Anak Sebagai Raja (Usia 0-7 Tahun)

Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya, apabila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketika kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya. Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai punggung kita saat kita kelelahan atau sakit. Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.

Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab. Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.

Anak Sebagai Tawanan (Usia 8-14 tahun)

Kedudukan seorang tawanan perang dalam Islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak untuk diberika hak dan kewajiban tertentu.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam mulai memerintahkan seoang anak untuk shalat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika ia telah berusia 10 tahun jika meninggalkan shalat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:

Melakukan sholat wajib 5 waktu,
Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat,
Menjaga pergaulan dengan lawan jenis,
Membiasakan membaca Al-Qur’an,
Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak susianya,
Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari. Reward ((hadiah/ penghargaan/ pujian) dan Punishment (hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi.
Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setiap anak itu unik).

Mendidik Anak Islami

Anak Sebagai Sehabat (Uusia 15-21 tahun)

Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orangtua sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

1. Berbicara dari hati ke hati. Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa.

Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan ditayangkan dan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Memberi Ruang Lebih. Setelah measuki usia akil Baligh, anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita. Controlling (pengawasan) tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.

3. Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih beratdan lebih besar, dengan begini kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.

Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik-adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola keuangannya sendiri.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita anak-anak yang shaleh shalehah dan berbakti.

“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha pendengar doa.” (Quran Surat Ali Imran: 38).

Oleh: FP Alhabib Quraisy Baharun.

Sebagai komparasi kita lihat pandangan ilmuwan barat tentang hal ini, diambil dari situs: http://dewiarifiani.blogspot.co.id/2011/11/makalah-pendidikan-anak-dalamkeluarga.html
Menurut teori perkembangan psikososial Erikson ada empat tingkat perkembangan anak yaitu :

 Usia anak 0 – 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan “trust” pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan “mistrust” yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.
Usia 2 – 3 tahun, yaitu autonomy versus shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang anak, akan menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak merasa malu.
Usia 4 – 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak, maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.
Usia 6 – 11 tahun, yaitu industry versus inferiority, bila anak dianggap sebagai “anak kecil” baik oleh orang tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kurang percaya diri.
Sekarang mari kita introspeksi diri masing-masing apakah kita sebagai Orang tua sudah memberikan pola pengasuhan yang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang serta jenjang usia anak-anak kita.





7 Comment


Achmad Rizal

Jumat, 13/07/2018 17:51

Bsbdbd


Achmad Rizal

Jumat, 13/07/2018 17:51

Vdbsbsbs


Fathia

Selasa, 10/04/2018 01:33

ok


Fathia

Selasa, 10/04/2018 01:25

okkk




Welcome to the community

Komunitas kita adalah wadah untuk komnunitas pengguna operator XL, dan disini setiap member bisa saling berbagi informasi dan saling membantu.
  358
  31/08/2016

Top Member

Indy Sumaryo

33
Petty Fathia

8
ActionCOACH South Jakarta

3
Saskia Wahyu Riani

2
bunga mega

2

NEWSLETTER